$65.000.000.000.

Enam puluh lima miliar dolar. Sekitar Rp1.170 triliun.

Itulah yang menguap dari pasar saham Indonesia dalam sehari. Menurut Reuters, ini penurunan harian terdalam dalam 28 tahun — sejak krisis moneter 1998. Bahkan lebih dalam dari kejatuhan 2008.

Sekadar meluruskan: $65 miliar ini bukan duit yang beneran ditarik keluar. Ini penurunan nilai kapitalisasi pasar — angka di atas kertas. Duit asing yang beneran keluar itu cerita lain, dan angkanya beda.

Malamnya saya tidak bisa langsung tidur. Bukan karena rugi besar — saya bukan pemain saham kakap. Tapi karena satu pertanyaan terus muter di kepala:

Ini saatnya serakah, atau saatnya kabur?

Warren Buffett punya kutipan terkenal: be fearful when others are greedy, and greedy when others are fearful.

Kedengarannya gampang. Prakteknya? Tidak sesederhana itu.

Sebetulnya ini bukan pertama kali saya mikir soal ini. Agustus tahun lalu saya pernah nulis soal peluang di tengah chaos — refleksi dari kejatuhan IHSG awal 2025 yang koreksi dalam dan trading halt berkali-kali. Waktu itu pasar sudah mulai recovery, dan thesis saya: pasar yang panik sering kasih diskon.

Ternyata chaos awal 2025 itu belum apa-apa. Sekarang turunnya lebih dalam lagi.

Pelajaran dari Rusia

Saya coba cari preseden. Kapan terakhir ada negara yang di-downgrade MSCI ke standalone market?

Rusia. Maret 2022. Setelah invasi ke Ukraina.

Yang terjadi setelahnya brutal. Indeks MOEX turun total sekitar 62% dari peak-nya. Dari pengumuman sampai benar-benar bottoming: butuh 8 bulan. Delapan bulan berdarah-darah.

Tapi setelah itu? MOEX recover sekitar 50% dari bottom.

Delapan bulan. Itu waktu yang lama kalau kamu pegang saham tiap hari dan lihat portofolio menyusut. Tapi itu juga bukti: pasar yang dihukum mati pun akhirnya bernapas lagi.

Pertanyaannya: apakah Indonesia akan mengulang pola yang sama?

Seberapa dalam lukanya?

Secara teknikal, ada yang memproyeksikan IHSG bisa turun sampai -42% dari level sekarang kalau skenario terburuk terjadi.

Angka yang menakutkan. Tapi saya mau jujur: saya tidak tahu pasti.

Terlalu banyak faktor. Keputusan MSCI belum final. Respon pemerintah belum jelas. Sentimen global berubah tiap minggu. Siapapun yang bilang tahu persis kemana IHSG akan pergi — dia berbohong, atau dia dukun.

Yang saya tahu: fear-nya kali ini punya alasan. Ini bukan panik tanpa sebab. Ada masalah struktural yang nyata: transparansi pasar dipertanyakan, dugaan perdagangan terkoordinasi. MSCI tidak main-main.

Jadi ini bukan fear irrasional yang bisa dibeli dengan mata tertutup. Ini fear rasional — dan fear rasional butuh kehati-hatian ekstra.

Uangnya tidak pergi, cuma pindah

Ada satu data yang menarik perhatian saya.

Dana asing memang jual saham besar-besaran: net sell -30,89 triliun. Tapi di saat yang sama, asing beli Surat Berharga Negara: +51,8 triliun.

Uangnya tidak pergi dari Indonesia. Uangnya pindah — dari saham ke obligasi.

Ini pola yang jarang terjadi di Indonesia. Biasanya kalau asing masuk, saham dan obligasi naik bareng. Kalau keluar, turun bareng. Korelasinya sama.

Kali ini beda. Korelasinya pecah. Asing masih percaya sama Indonesia — tapi tidak percaya sama pasar sahamnya. Mereka pilih yang lebih aman: surat utang negara.

Buat saya, ini kabar baik sekaligus kabar buruk. Baiknya: Indonesia belum ditinggal. Buruknya: pasar saham dianggap terlalu berisiko, bahkan oleh mereka yang masih mau taruh duit di sini.

Matematika sederhana

Ada satu hal yang menenangkan saya.

Saham ABCD dari 4000 ke 8000: return 100%.

Saham ABCD dari 2000 ke 4000: juga 100%.

Angkanya beda jauh. Return-nya sama.

Harga murah bukan jaminan untung. Tapi diskon besar memberi ruang: modal lebih kecil, potensi return yang sama. Itu matematika yang tidak bisa dibantah.

Masalahnya bukan di angka. Masalahnya di nyali — dan di kesabaran menunggu sampai harganya benar-benar murah, bukan cuma “kelihatan murah” padahal masih bisa turun lagi.

Pertanyaan yang sebenarnya

Saya sampai pada kesimpulan: pertanyaan yang tepat bukan “kapan IHSG recover?”

Pertanyaan yang tepat: apakah kamu percaya Indonesia?

Saya pribadi — objektif — percaya. Ekonomi Indonesia tidak runtuh. Fundamentalnya masih ada. Masalahnya di pasar modal, bukan di negaranya.

Tapi percaya bukan berarti percaya buta. Saya tidak akan all-in besok pagi. Saya butuh waktu untuk menilai: dimana posisi terbaik ketika pemulihan datang? Sektor apa? Timing kapan?

Percaya itu satu hal. Bertindak ceroboh atas nama kepercayaan itu hal lain.

Serakah dengan mata terbuka

Jadi, greedy when others are fearful?

Ya — tapi dengan mata terbuka.

Bedakan fear irrasional dan fear rasional. Kalau orang panik tanpa alasan jelas, itu diskon. Kalau orang takut karena ada masalah nyata, itu peringatan.

IHSG sekarang: campur aduk keduanya. Ada panik berlebihan, ada juga masalah nyata. Tugas saya sebagai trader retail kecil: pilah mana yang mana. Ambil yang diskon, hindari yang jebakan.

Rusia butuh 8 bulan untuk bottoming. Indonesia mungkin lebih cepat, mungkin lebih lama. Saya tidak tahu.

Yang saya tahu: saya tidak mau jadi orang yang panik ikut-ikutan. Tapi saya juga tidak mau jadi orang yang sok berani lalu kehabisan modal di tengah jalan.

Pelan-pelan. Mata terbuka. Dompet dijaga.


Ditulis 17 Oktober 2026 oleh AI Assistant berdasarkan ide dan arahan Cho. Bukan nasihat finansial.


Sumber data:

  • Reuters — IHSG anjlok 11,6%, ~$65 miliar nilai pasar menguap, penurunan harian terdalam sejak 1998
  • CNBC Indonesia (via Refinitiv) — penurunan harian terdalam dalam 28 tahun
  • Bank Danamon (Flash Note) — timeline konsultasi MSCI hingga 30 Juni 2027, data kepemilikan asing KSEI
  • MSCI — pengumuman konsultasi reklasifikasi Indonesia ke Standalone Market, 15 Oktober 2026