Malam ini saya buka HP seperti biasa.

Yang muncul pertama: IHSG anjlok 11,57%.

Yang muncul kedua: puluhan ribu titik panas kebakaran hutan. Di sosmed rame — orang-orang pada posting langit oranye, jarak pandang drop drastis, anak-anak batuk-batuk.

Sehari, dua kebakaran. Yang satu membakar duit. Yang satu membakar hutan.

Saya bukan investor kakap. Bukan juga aktivis lingkungan. Saya cuma warga biasa yang baca berita sambil ngopi, lalu bertanya ke diri sendiri: kok bisa semuanya kebakar bareng-bareng?

Yang membakar duit

IHSG tutup di 5.185. Terparah dalam lima tahun terakhir. Pagi-pagi bursa sempat dihentikan sementara — trading halt — karena panik.

Pemicunya bukan perang. Bukan pandemi. Pemicunya adalah MSCI, penyedia indeks global, yang membuka konsultasi untuk menurunkan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Terjemahan bebasnya: dunia tidak lagi percaya sama pasar modal kita.

Alasannya pahit. Transparansi kepemilikan saham dipertanyakan. Ada dugaan perdagangan yang terkoordinasi. Ini bukan tuduhan buzzer atau opini oposisi — ini penilaian lembaga yang dipakai manajer dana triliunan dolar sebagai acuan.

Dana asing sudah kabur Rp110 triliun tahun ini. Terbesar sejak 1998. Kalau status standalone benar-benar kejadian, US$3 miliar dana pasif menyusul keluar. Rupiah ikut jebol ke Rp18.000 per dolar.

Lihat sendiri peta kehancurannya hari itu:

Peta saham Indonesia 16 Oktober 2026 — semuanya merah

BBCA -14,40%. BBRI -12,90%. Tidak ada yang selamat.

Yang membakar hutan

Sementara layar bursa memerah, langit separuh Indonesia juga memerah. Karena api dan asap.

SiPongi mencatat 12.183 titik panas dalam 12 hari pertama Oktober. Kalimantan Tengah: 3.268 titik. Se-Pulau Kalimantan: 4.674 — 38% dari seluruh Indonesia.

Sumatera tidak kalah: 4.059 titik panas, Sumatera Selatan terbanyak dengan 2.791. Riau dan Jambi terus mencatat titik api baru.

Papua: 8.324 titik sepanjang Januari–Oktober menurut WALHI. Yang menarik — 1.834 titik di antaranya berada di kawasan Food Estate. Proyek pangan nasional.

Data Polri lebih ngeri lagi: 307.845 titik di Kalimantan Tengah. 413.824 secara nasional. Luas lahan terbakar: 343.543 hektare.

Korbannya bukan angka. 324 orang luka berat. 277.075 kasus ISPA di 63 kabupaten/kota — 62.400 di antaranya balita.

Angka-angka di atas terasa abstrak sampai saya buka Instagram. Sebuah postingan dokumentasi karhutla Kalimantan ditonton ratusan ribu orang — langit oranye seperti ruang gas, anak-anak pakai nebulizer, orangutan diselamatkan dari hutan yang terbakar. PM2.5 tembus 3.000. ISPU 4.055.

Di kolom komentar, orang-orang menuntut hal yang sama: tetapkan sebagai bencana nasional.

Asap menyebar ke 26 provinsi. Sampai ke Singapura dan Malaysia.

Ini bukan tahun pertama. Bukan tahun kedua. Karhutla adalah langganan tahunan — seperti musim kedua setelah kemarau.

Ada satu hal yang bikin saya senyum pahit. Tahun 2015 — sebelas tahun lalu — Prabowo Subianto menulis di Facebook: karhutla harus ditetapkan sebagai bencana nasional. Saat itu dia masih di luar pemerintahan, dan usulannya viral.

Sekarang dia presiden. Karhutla kembali melanda. Status bencana nasional belum ditetapkan juga.

Pola yang sama

IHSG dan karhutla kelihatannya tidak ada hubungan. Yang satu soal uang, yang satu soal api.

Tapi coba perhatikan polanya.

Bukan bencana mendadak. Transparansi pasar dibahas bertahun-tahun. El Niño diprediksi berbulan-bulan. Tidak ada yang tiba-tiba.

Gagal dicegah. Regulator tidak beres-beres sampai MSCI turun tangan. Sistem pencegahan kebakaran tidak pernah cukup kuat menghadapi kemarau yang sudah jelas akan parah.

Reaktif, bukan proaktif. Trading halt setelah panik. Armada dikerahkan setelah api meluas. Selalu terlambat satu langkah.

Lalu lupa. Setelah hujan turun dan IHSG memantul, perhatian publik pindah ke hal lain. Sampai siklusnya berulang tahun depan.

Saya tidak menyamakan hilangnya uang investor dengan rusaknya paru-paru warga. Bobotnya beda. Tapi kegagalan sistemnya sama: negara yang pandai membuat program, tapi lemah dalam eksekusi dan pengawasan.

Sampai kapan nonton doang?

Saya menulis ini bukan karena punya solusi. Saya tidak punya.

Saya cuma resah.

Resah karena setiap tahun kita seperti menonton film yang sama dengan akhir yang sama — lalu terkejut setiap kali filmnya diputar ulang. Resah karena yang terbakar bukan cuma hutan dan angka di layar, tapi kepercayaan. Kepercayaan investor ke pasar kita. Kepercayaan warga ke kemampuan negara melindungi mereka.

Mungkin pertanyaan yang tepat bukan “kapan ini berakhir?” Jawabannya sudah jelas: tidak akan berakhir kalau polanya tidak berubah.

Pertanyaan yang tepat mungkin: sampai kapan kita cuma nonton doang?


Ditulis 16 Oktober 2026. Data: CNBC Indonesia, Bloomberg Technoz, Kementerian Kehutanan (SiPongi), Polri/Posko Karhutla Kalteng, WALHI, BMKG.