Sehari Setelah Tidak Perpanjang Kontrak

Pagi ini saya bangun tanpa alarm kantor.

Bukan karena saya rajin — alarmnya memang sudah saya matikan semalam. Tidak ada shift yang harus dikejar, tidak ada jadwal berganti-ganti yang mengatur kapan saya tidur dan kapan bangun. Rumah sepi. Istri sudah beraktivitas. Saya duduk di tepi kasur agak lama, tidak ngapa-ngapain.

Ini hari pertama saya bukan karyawan lagi.

Lega dan takut, bersamaan

Orang biasanya bertanya: lega atau sedih? Jawaban jujur saya: dua-duanya, dalam waktu yang sama.

Lega karena keputusan ini saya ambil sendiri. Tidak ada drama, tidak ada dipecat — kontraknya habis, dan saya memilih tidak perpanjang. Ada kelegaan aneh waktu mengetik kalimat itu ke atasan: saya tidak perpanjang. Seperti menaruh beban yang sudah lama saya pikul tanpa sadar.

Takut karena… ya, gaji tetap itu candu. Setiap bulan ada angka pasti yang masuk. Mulai besok, angka itu tidak ada. Yang ada cuma rencana dan ketidakpastian. Saya tidak akan sok bijak bilang “saya tidak takut sama sekali”. Saya takut. Tapi takutnya takut yang sehat — takut yang bikin saya bangun pagi dan mikir, bukan takut yang bikin lumpuh.

Kenapa tidak perpanjang

Bukan karena kantornya tidak baik atau ada masalah dengan atasan. Justru sebaliknya — saat itu saya lagi sangat enjoy dengan tim dan banyak belajar hal baru.

Makanya keputusan ini tidak mudah. Pergi dari tempat yang nyaman demi sesuatu yang belum pasti — itu yang bikin banyak orang (termasuk saya, sempat) ragu.

Dan ada satu alasan yang bikin saya tambah yakin: istri saya mendukung penuh.

Ini tidak bisa dianggap remeh. Keputusan seperti ini — menukar gaji tetap dengan ketidakpastian — dampaknya bukan cuma ke saya, tapi ke kami berdua. Punya pasangan yang bilang “jalan saja, aku dukung” itu mengubah segalanya. Keraguan yang tadinya 50-50 jadi 90-10.

Buat yang sudah berkeluarga dan mau ambil jalan serupa: pastikan dulu orang di sebelahmu ikut yakin. Bukan cuma soal izin, tapi soal punya tim di rumah.

Tapi alasannya tetap sama, dan tetap ambisius: saya ingin banyak eksplor, dan saya pingin membangun usaha.

Selama kerja kantoran, dua hal ini tidak pernah dapat porsi penuh — selalu jadi “nanti kalau sempat”. Padahal “nanti kalau sempat” itu tidak pernah datang. Trading saya tekuni sejak 2019, nulis sudah saya mulai lagi, tapi semuanya setengah hati karena waktunya sisa-sisa.

Jadi saya tukar kepastian gaji dengan ketidakpastian yang saya pilih sendiri. Terdengar nekat? Mungkin. Tapi bertahan di tempat yang bikin saya setengah hati juga bukan pilihan yang aman — cuma terlihat aman.

Ironi: tawaran datang justru saat mau pergi

Ada hal aneh yang terjadi belakangan ini: saat saya memutuskan berhenti, tawaran kerja kantoran malah berdatangan. Banyak.

Sebagian saya tolak — bukan karena sombong, tapi karena saya sudah komit mau bikin projek sendiri. Menerima tawaran artinya mengkhianati keputusan yang baru saya buat. Lucu juga: semesta menguji keseriusan saya dengan cara yang paling menggoda.

Sebagian lagi… saya yang ditolak. Sudah sampai interview user di perusahaan yang menarik, tapi tidak lolos. Awalnya agak nyesek — tapi dipikir-pikir, mungkin ini cara semesta bilang: sudah, fokus saja ke jalanmu.

Dua-duanya — menolak dan ditolak — ternyata malah menguatkan keputusan saya. Yang satu bukti saya serius, yang satu bukti saya tidak perlu menoleh ke belakang.

Terus ngapain?

Sejujurnya, saya belum punya satu jawaban final. Dan itu disengaja — saya mau eksplorasi dulu, seluas-luasnya.

  1. Eksplorasi — coba banyak hal, lihat mana yang hidup. Trading, nulis, dan mungkin hal lain yang belum saya tahu saya suka.
  2. Membangun usaha — ini target besarnya. Bukan sekadar freelance atau kerja serabutan, tapi sesuatu yang bisa tumbuh. Bentuknya masih cair, dan tidak apa-apa. Cair di awal lebih baik daripada kaku tapi salah arah.
  3. Trading serius — bukan judi, tapi pembuktian bahwa sistem yang saya bangun sejak 2019 benar-benar jalan.
  4. Nulis rutin — minimal sebulan sekali di blog ini. Termasuk tulisan ini.

Yang mengejutkan: saya malah lebih produktif

Ini yang tidak saya duga. Waktu masih kantoran, saya kira kebebasan waktu bakal bikin saya malas-malasan. Ternyata kebalikannya.

Mungkin karena sekarang setiap jam terasa “milik saya”, jadi sayang kalau dibuang sia-sia. Atau mungkin karena tidak ada lagi alasan “capek kerja” untuk menunda hal yang saya mau.

Trik saya sederhana biar tidak terjerumus malas: saya kasih label di setiap slot waktu. Pagi: briefing dan analisa trading. Siang: eksplorasi dan kerja. Sore: nulis atau belajar. Kedengarannya kaku, tapi justru label-label inilah yang bikin saya tidak hanyut. Malas itu biasanya datang dari waktu yang tidak punya nama — kalau setiap jam sudah ada pemiliknya, malas tidak punya tempat mampir.

Tidak ada master plan 5 tahun. Saya belajar dari trading: kamu tidak perlu tahu ke mana harga akan pergi, cukup tahu di mana invalidasimu. Invalidasi saya: kalau sampai suatu titik tidak ada pemasukan yang menutup kebutuhan pokok, saya cari kerja lagi. Tidak ada malu di situ.

Penutup hari pertama

Sore ini saya masih duduk di tempat yang sama. Belum ada yang berubah secara dramatis — tidak ada petir, tidak ada pencerahan. Cuma satu hal: untuk pertama kalinya dalam waktu lama, besok pagi adalah milik saya sepenuhnya.

Kita lihat mau dibawa ke mana.


Kamu pernah di titik ini? Resign, tidak perpanjang kontrak, atau keluar dari zona nyaman? Cerita di kolom komentar.